Mount Batur, when life is too flat, climb a mountain! (Indonesia)

Pada tanggal 12 Agustus 2017, saya dan teman-teman saya di Bali pergi untuk mencari matahari terbit dari salah satu Gunung Api aktif di Bali, Gunung Batur.

Semuanya bermula saat kami bertemu untuk makan siang, teman saya, Michelle, memperkenalkan saya dengan kakaknya, Angel, yang baru saja pindah ke Bali untuk tinggal dengan Michelle.

Angel lalu menceritakan tentang pengalamannya dalam mendaki Gunung Prau dan Gunung Merbabu, keduanya terletak di Indonesia tepatnya di Jawa Tengah, dan ketika saya bertanya kepada Angel tentang Gunung Batur, dia berkata bahwa dia belum berkesempatan untuk mendaki Gunung Batur, tapi dia ingin mendakinya kalau ada kesempatan.

Akhirnya, kami memutuskan untuk untuk mengumpulkan teman teman untuk mendaki Gunung Batur bersama, dan mencari seorang pemandu untuk membantu pendakian.

IMG_6820Saya pun bertanya kepada seorang teman baik di Bali, kami kuliah di universitas yang sama dan sekelas pula, Indhara, apakah dia kenal dengan seseorang yang dapat membantu kami mendaki Gunung Batur, dan tentu saja, dia tahu orang yang tepat.

Dari sini, kami diperkenalkan dengan seorang teman, Indra, yang sangan berpengalaman dalam mendaki Gunung Batur. Dia sudah pernah mendaki Gunung Batur berkali-kali dan senang rasanya menemukan koneksi dan teman baru.

IMG_6815Dari kiri ke kanan: grup kami terdiri dari 7 orang, saya, Indhara, Hendry (pacar Michelle), Michelle, Indra, dan Angel, dan KFC Sanur diputuskan untuk menjadi tempat pertemuan sebelum berangkat ke Gunung Batur.

Peralatan yang saya bawa adalah:

  1. Sepasang sepatu mendaki / sepatu lari berkualitas bagus
  2. Jaket
  3. Celana jogger / celana training, saya harus bergerak dengan nyaman dan terasa lebih hangat dengan celana tersebut.
  4. 1 liter air mineral atau lebih (saya membawa 2 liter dan hanya menggunakan kurang lebih 1 liter)
  5. Makanan ringan untuk sarapan sambil melihat matahari terbit (Dilarang membawa daging sapi / makanan yang mengandung sapi)
  6. Masker, (sangat penting)
  7. Sepasang sarung tanganย (sangat penting),
  8. Senter / headlamp,
  9. Jas hujan, jaga-jaga kalau hujan, jangan lupa untuk memeriksa prakiraan cuaca.

Pukul 23:00, 11 Agustus 2017, kami pun berkumpul di tempat yang sudah di putuskan dan sekitar pukul 01:00, kita pun sampai di pintu gerbang pendakian gunung batur untuk memarkirkan mobil dan menyiapkan peralatan.

Gunung Batur memiliki 2 jalan masuk dengan fungsi yang berbeda.

Satu melewati hutan di kaki Gunung Batur, kebanyakan digunakan oleh siswa-siswa untuk acara sekolahan dan digunakan juga oleh Komunitas Pecinta Alam Bali.

Jalan yang lain merupakan yang paling terkenal di kalangan turis, jalan beraspal sampai di tengah gunung.

Kita pun menggunakan jalan “turis”.

Pukul 02:30, 12 Agustus 2017, setelah menunggu beberapa saat dan mengkonsumsi sedikit snack, kami pun mulai melakukan pendakian. Ada alasan mengapa kami menunggu sampai 02:30 untuk melakukan pendakian, karena kalau kami mendaki terlalu awal, waktu untuk menunggu matahari terbit pun akan lebih lama, dan di puncak Gunung Batur sangat dingin.

Kalau kamu berada di group yang terdiri dari lebih dari 10 orang, dan tidak memiliki pengalaman dalam mendaki, lebih aman untuk mendaki lebih awal dan lebih banyak berhenti untuk beristirahat sebentar. Ingat, group yang lebih kecil berarti waktu yang lebih pendek untuk mendaki (sesuai dengan pengalaman saya mendaki Gunung Batur), karena hanya sedikit orang yang perlu di bantu ketika mendaki.

Titik awal pendakian terasa sangatlah mudah, jalan beraspal yang di kelilingi pohon.

Sampai kita melihat sebuah papan bertuliskan “This way to the top of Mount Batur” (lewat sini untuk menuju pucak Gunung Batur), pendakian yang berat pun dimulai.

Jalurnya di penuhi dengan bebatuan dan pasir yang licin.

Kenapa saya merekomendasikan sepatu berkualitas bagus, masker, dan sarung tangan, karena sepatu Michelle rusak ketika melakukan pendakian, sol sepatunya lepas dan sangatlah sulit untuk mendaki dengan sepatu yang licin. Jalurnya juga dangat berdebu, jadi masker sangatlah dibutuhkan, dan sarung tangan sangat membantu untuk meraih bebatuan dan benda di sekeliling tanpa melukai tangan ketika mendaki, sarung tangan juga membantu untuk menghangatkan tangan ketika menunggu matahari terbit di puncak.

Dan juga, jangan lupa untuk memeriksa ketinggian awan, kami menghadapi kabut awan ketika mendaki selama beberapa saat, dan sangatlah sulit untuk melihat ke jalur.

Pukul 05:30, setelah 3 jam melakukan pendakian, kami pun sampai di puncak Gunung Batur.

IMG_6813

Foto: Pemandangan dari puncak Gunung Batur. 3 gunung lain terlihat dari sini, Gunung Rinjani di Pulau Lombok (yang paling jauh di belakang), Gunung Abang (yang paling dekat dengan Gunung Batur), dan Gunung Agung (Gunung api tertinggi di Bali, terletak di belakang Gunung Abang).

IMG_6838

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Tip #1, cobalah untuk mencari tempat duduk paling bagus dan strategis untuk melihat matahari terbit dan jangan pernah meninggalkan tempat tersebut, karena Gunung Batur selalu ramai dengan turis dan sangat tidak nyaman kalau tidak mendapatkan tempat duduk ketika matahari terbit).

Tip #2, cobalah untuk secepatnya turun kalau matahari sudah terbit untuk menghindari “macet”, jalan untuk turun sangatlah sulit dan banyak orang akan turun bersamaan.

Tip #3, Cobalah untuk mengunjungi sumber air panas ketika sudah turun dari gunung. Sumber air panas tersebut terletak tidak jauh dari Gerbang Gunung Batur, bertanyalah kepada orang-orang sekitar kalau tidak yakin dengan lokasinya. Bersantai di sumber air panas setelah mendaki gunung adalah ide yang sangat bagus. (sayangnya, kami tidak pergi ke pemandian air panas tersebut…)

Tinggalkan komentar dan pertanyaan anda tentang Gunung Batur, saya akan mencoba sebisa saya untuk menjawabnya!

 

Advertisements