Malang and It’s Beautifully Dangerous Villages (Bahasa Indonesia)

Setelah menghabiskan 2 malam di Surabaya, saya pun melanjutkan perjalanan saya ke Kota Malang, sekitar 2 jam dengan menggunakan kereta api. Dari stasiun Gubeng di Surabaya, kereta api dijadwalkan untuk berangkat pukul 7.30 pagi dan sampai di kota Malang pukul 9.30. Malang merupakan kota kecil sekitar 93 km dari Surabaya dengan temperatur yang cukup sejuk dibandingkan kota Surabaya, dengan alamnya yang indah dan makanannya yang enak-enak.
Sesampainya di Malang, saya langsung di sambut oleh angin sejuk dan udara segar. Dari Stasiun Malang ke hostel, saya menggunakan transportasi online, karena harganya yang lebih murah dan masuk akal dibandingkan dengan taksi lokal yang kadang-kadang dapat melubangi dompet saya karena saya sendiri juga ga jago nego.

Karena kotanya yang cukup kecil, hanya membutuhkan sekitar 10 menit untuk sampai di hostel tempat saya akan tinggal selama 3 malam ke depan, Setelah check-in dan mencoba untuk mendapatkan info tentang kota Malang (karena saya sendiri juga ga research) ke seorang tamu hostel bernama Rafly, saya malah akhirnya bergabung dengan Rafly dan teman-temannya untuk berkeliling kota Malang.

Kami pun memutuskan untuk pergi ke Kampung Tridi, yang merupakan sebuah kampung yang di cat warna-warni oleh Eddy Supriyanto, seorang pelukis yang dengan kontribusinya mengharapkan agar orang-orang dapat menikmati karya lukisan 3D, mengangkat sektor pariwisata kota Malang dan mengubah status area kampung tersebut yang sebelumnya merupakan kampung kumuh.

DSCF3798

Kampung Tridi sebenarnya terdengar seperti Kampung 3D, faktanya, kampung ini seharusnya bernama Kampung 3D, tapi karena cara pengucapan orang Jawa terdengar seperti Tridi, maka nama “Kampung Tridi” pun terpilih. Setelah kami memarkirkan motor, hujan yang cukup deras tiba-tiba datang. Sambil menunggu, kami pun berbincang dengan penduduk lokal disana sambil menunggu hujan reda dan mendapatkan banyak informasi tentang kampung tersebut. Tiket masuk Kampung Tridi seharga Rp 5.000 per orang dan saya juga mendapatkan gantungan kunci buatan penduduk lokal disana.

Tentang informasi yang saya dapatkan, kami mencoba untuk mendapatkan informasi tentang lokasi foto yang sangat bagus di atas jembatan rel kereta api, tapi penduduk lokal disana memberitahukan bahwa tempat tersebut sangat berbahaya dan pernah terjadi beberapa kecelakaan disana, ada yang tertabrak kereta dan bahkan jatuh ke sungai dangkal yang penuh bebatuan di bawah jembatan. Saya pun bertanya tentang bagaimana cara untuk ke lokasi tersebut dan penduduk lokal disana dengan senang hati memberikan petunjuk jalan ke sana.

Karena penasaran, kami pun mencoba untuk pergi ke lokasi tersebut, dan benar saja, tempat foto tersebut benar-benar sangat berbahaya. Jembatan rel kereta api tersebut digunakan agar kereta dapat menyebrangi sungai, dan setelah menyebrang, ada sebuah tikungan tajam disana yang menyembunyikan kedatangan kereta api yang akan lewat ke arah sebaliknya, dan akhirnya mengakibatkan banyak orang tertabrak kereta api atau jatuh ke sungai karena panik.

Rel-Kereta-Api-Jodipan.jpg
Contoh foto yang banyak orang inginkan, source: malang dotcom
img-0253.jpg
Cukup berbahaya apalagi saat itu sedang hujan.

Ingat, rel kereta api bukan tempat untuk berfoto-foto. Banyak orang-orang yang terluka dan bahkan meninggal hanya karena ingin mendapatkan banyak likes di instagram. Beberapa dari mereka memang sempat terkenal, tapi terkenal karena kecelakaan yang mereka alami, jangan berakhir seperti mereka!

Sebuah artikel tentang kecelakaan di rel tersebut, disini!

Di seberang Kampung Tridi, ada sebuah kampung berwarna biru yang bernama Kampung Biru Arema. Kampung ini juga pernah berstatus sebagai pemukiman kumh seperti Kampung Tridi, tapi status tersebut dihilangkan setelah walikota Malang mengubahnya menjadi tempat wisata dengan mengecat seuruh kampung tersebut dengan warna biru, sesuai dengan warna klub sepak bola kebanggaan kota Malang, Arema. Harga tiket masuk kampung ini juga seharga Rp 5.000 per orang.

DSCF3809 (1)
Kampung Biru Arema.

Kampung berwarna lainnya, bernama Kampung Warna Warni Jodipan, merupakan kampung pertama yang memulai tren kampung berwarna di Malang dengan gagasan oleh mahasiswa dan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang.

DSCF3793

Kampung ini juga terletak bersebelahan dengan dua kampung berwarna lainnya, menjadikan area sekitar sana sangat berwarna. Jangan lupa kunjungi ketiga kampung tersebut  di Malang!

 

With burning curiosity,

 

Ferry William

Instagram: @ferry_william

Facebook: Ferry William

Twitter: @ferrywilliam

Email: ferrywilliamm@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s