Mount Bromo and a Flashback (Bahasa Indonesia)

Gunung Bromo adalah tempat wisata yang sangat popular di Indonesia, bukan hanya untuk turis lokal, tapi turis mancanegara juga berbondong-bondong untuk datang. Gue dan teman-teman selalu membahas tentang mengunjungi Gunung Bromo, tapi timing aja yang nggak memungkinkan karena teman-teman gue sekarang bekerja di hotel yang jarang memiliki jadwal tetap.

Pernahkan kamu berfikir tentang bagaimana planning memakan waktu terbanyak dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan sepanjang perjalanan? Karena planning sendiri membutuhkan kesabaran dan kalkulasi yang tepat. Setiap orang tidak memiliki jadwal dan rutin yang sama, gue bisa aja free selama weekend, tapi teman-teman gue bisa jadi weekend tesibuk sepanjang sejarah peradaban manusia.

Dulu, yang gue lakuin selama liburan semester adalah untuk pulang ke rumah di Indonesia, kembali ke zona nyaman gue dan hanya melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya sampai liburan semester berakhir dan kembali lagi menjadi seorang mahasiswa. Gue memilih kenyamanan dibandingkan ketidakpastian. Gue bahkan bisa menghabiskan seminggu atau sebulan, cuma stay di rumah tanpa melakukan apapun yang bisa diartikan sebagai sesuatu yang produktif. Dan seperti itulah, liburan panjang pun berakhir dengan waktu yang gue habiskan dengan percuma. Gue fikir kalau hal tersebut bisa dimaklumi karena gue juga masih mahasiswa, gue masih muda dan perlu waktu untuk berisitrahat dari penat perkuliahan. Lalu wisuda datang dan kehidupan yang sebenarnya pun mengantam gue.

Pembahasan gue dan teman-teman untuk jalan-jalan pun selalu berakhir di tumpukan “perjalanan yang sudah di rencanakan tapi batal karena jadwal yang nggak cocok”. Gue baru sadar bahwa masa-masa kuliah merupakan masa yang paling seru, dengan 4 bulan liburan per tahun dan banyak sekali jadwal kosong tiap semesternya, gue bisa aja jalan-jalan ke banyak sekali destinasi, atau sekedar keliling ke semua provinsi di Malaysia (tempat gue kuliah), atau bahkan bisa menyelesaikan bucket-list saya.

Apa yang harus gue lakukan, mengingat jalan-jalan bareng merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan sekarang? Solo Travelling! Karena itulah, pada bulan Maret 2018, gue pun memutuskan untuk solo travelling ke Jawa Timur, yang dimana juga merupakan tempat terletaknya Gunung Bromo. Tapi gue juga nggak sendirian selama mengunjungi gunung bromo. Teman gue yang dulu kenal sewaktu magang di Bali, Anson, kebetulan sekarang ini bekerja di Malang, dan gue juga berkenalan dengan beberapa teman di hostel, yang juga ingin bergabung untuk tur ke gunung bromo. Jadi gue pun tur ke gunung bromo dengan 3 orang teman lainnya.

Rafly, Ditta, Anson dan gue. Dibelakang kami adalah kawah Gunung Bromo.

 

Done with the flashback, lets get back to the real adventure!

With burning curiosity,

Ferry William

Instagram: @ferry_william

Facebook: Ferry William

Twitter: @ferrywilliam

Email: ferrywilliamm@gmail.com

One thought on “Mount Bromo and a Flashback (Bahasa Indonesia)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.