Train Experience: Yogyakarta to Surabaya in a Business Coach (Bahasa Indonesia)

Ketika mendengar tentang “Kelas Bisnis”, kalian pasti berfikir bahwa pengalaman gue kali ini mewah banget. Tanggal 5 maret 2018, gue mendarat di Yogyakarta sekitar pukul 10 malam. Harusnya sih jadwal perjalanan gue dimulai di Surabaya, tapi kok gue bisa ada di Yogyakarta?

Alasannya sih cukup menarik. Setelah pertimbangan yang cukup lama, gue ngerasa lebih murah kalau gue terbang ke Yogyakarta dulu dari Medan, lalu melanjutkan perjalanan ke Surabaya menggunakan kereta api.

IMG_0828
Booking tiket melalui Tokopedia.com

Kelas Bisnis enggak melulu tentang kemewahan seperti di pesawat. Kalau di kereta api sih, hanya ada sedikit perbedaan antara kelas ekonomi dan kelas bisnis. Perbedaan yang paling mencolok adalah di kelas ekonomi, tempat duduknya itu adalah satu tempat duduk segi panjang dengan 3 orang per tempat duduk yang tegak banget, berhadap-hadapan pula dengan tempat duduk di depannya, sedangkan di kelas bisnis, tempat duduknya lebih nyaman ‘sedikit’, dengan hanya 2 orang per tempat duduk dan tingkat kemiringan tempat duduk yang sedikit lebih nyaman.

lunatictwister.blogpost.com
Kelas Ekonomi, Sumber dari Wikipedia
Baim Muhammad
Kelas Bisnis, Sumber dari Baim Muhammad
jalancerita.com
Kelas Eksekutif, Sumber dari jalancerita.com

Sejujurnya, gue sebenarnya lebih suka dan lebih sering menggunakan kelas eksekutif ketika menggunakan kereta api untuk keluar kota. Harganya sih agak lebih mahal sedikit dari kelas bisnis, tapi lebih nyaman dengan AC pribadi, ruang lebih besar untuk kaki, dan kemiringan kursi yang bisa di atur. Keputusan gue memiih kelas bisnis juga  karena penghematan yang gue lakuin demi trip ini, lagian di kereta api juga pasti bakalan tidur doang, kan sayang banget.

Rencananya sih gue bakalan tidur selama ±5 perjalanan dari Yogyakarta, sampai di Surabaya dengan energi yang sudah terisi, dan memulai pertualangan yang sudah gue atur sebelumnya, tapi semuanya jadi kacau balau dan perencanaan gue harus sedikit direvisi.

Karena kereta api yang gue persan merupakan kereta api tengah malam, (jam 1 pagi cuy), gue pun sudah mempersiapkan diri dengan menggunakan pakaian serba hangat karena kondisinya kereta api pasti dingin banget dengan AC. Tapi, ketika gue naik ke kereta api menuju tempat duduk gue, perasaan gue langsung gak enak. Bener aja, sesudah duduk, gue ngerasa kok ini gerbong panas banget. Eh ternyata, ada beberapa penumpang yang ga kuat dingin, jadi mereka meminta staff disana untuk mematikan AC nya.

Bukan itu aja, sebelum gue naik sih gue udah cek bahwa tempat duduk sebelah gue itu kosong, jadi bisa selojoran deh sambil tidur, gue yang harusnya duduk sendirian di window seat pesenan dari jauh hari  malah menemukan bahwa sudah ada orang lain yang tidur terlelap di tempat gue, dengan ranselnya yang juga ikutan tidur di sebelahnya. Kebiasaan klasik banget kan, gak di pesawat, gak di kereta api, sama aja, tempat duduk asal comot.

Pertanyaannya, kenapa gue ga bangunin dan bilang kalau itu seat gue? Awalnya sih gue pengen staff yang kerjaannya cek tiket di gerbong yang bilangin aja, soalnya setiap naik kereta api pasti ada orang yang cek tiket, buat ngeliat apakah penumpang memiliki tiket resmi dan sudah duduk di tempat yang benar, eh tapi sampai di Surabaya malah gak ada yang cek tiket sama sekali. Udah gitu orang sebelah gue tidurnya sampe Surabaya cuy ga bangun-bangun.

Gue karena panas dan bosan gak bisa tidur, sesekali malah jalan-jalan antar gerbong buat nyari udara dingin dan seger, gerbong tempat duduk gue panas dan gerahnya luar biasa banget. Alhasil gue pun tetap sadar selama 5 jam perjalanan.

Sampai dengan selamat di Surabaya, gue pun langsung mengikuti rencana perjalanan gue (tour keliling museum selama 5 jam, baca disini), dan sorenya gue bisa ketemu kasur di hostel dan tidur selama 2 jam. Awal perjalanan gue berkesan banget!

PS: Ada banyak banget tipe-tipe kereta api di Indonesia. Yang gue tulis di atas adalah beberapa tipe yang udah gue coba sebelumnya, selain itu ada juga tipe lainnya yang gue sendiri juga belum pernah lihat sebelumnya, seperti Gerbong Taksaka Priority, yang biasanya digunakan oleh Presiden dan pejabat-pejabat Indonesia untuk berkunjung ke kota lain, tapi sekarang sih juga bisa di pakai oleh masyarakat awam, Sleeper Coach atau Gerbong untuk tidur, dengan kursi yang bisa di ubah menjadi kasur (beneran FLAT) untuk yang menggunakan kereta malam seperti gue, adn terakhir ada Gerbong Ekonomi Premium, sedikit lebih mahal dari kelas ekonomi tapi dengan fasilitas hampir menyamai kelas eksekutif.

Kira-kira ada kelas lainnya yang gue lewatin ga?

With burning curiosity,

Ferry William

Instagram: @ferry_william

Facebook: Ferry William

Twitter: @ferrywilliam

Email: ferrywilliamm@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.